Minggu, 13 Januari 2013

Efektifitas penerapan metode teams games tournamen dalam pembelajaran matematika pada peserta didik SMPN 4 Campalagian kelas 2


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pembelajaran sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara guru dan peserta didik. Dalam hal ini, kegiatan yang terjadi adalah guru mengajar dan peserta didik belajar menurut, E Mulyasa (2002: 32). Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak tidaknya sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif. Baik fisik,mental maupunsosial dalm proses pembelajaran. Disamping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya diri pada diri sendiri. Berdasrkan halo tersebut diatas upaya gurudalam mengembangkan keaktifkan belajaran siswa sangatlah penting, sebab keaktifan belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.
Menurut Oemar Hamalik (2005:172) belaja tidak cukup hanya mendengar dan melihat tetapi harus melakukan aktivitas yang lain diantaranya membaca,bertanya, menjawab, berpendapat,mengerjakan tugas, menggambar berkomunikasi presentasi diskusi, menyimpulkan, dan memanmaatkan peralatan.dalam pembelajaran, gurumenyajikan permasalhan matematika dan mendorong siswa untuk mengidentifikasipermasalahan,mencari pemecahan, menyimpulkan hasilnya, kemudian mempresentasikannya. Tugas guru sebagai fasilitator dan pembimbing adalah memberi bantuan dan arahan ketika peserta didik  menemukan masalah dalam menyelesaikan tugas, selain berinteraksi dengan guru, pesertadidik juga dapat bertanya dan berdiskusi dengan siswa lain. Siswa dikatakan belajar dengan aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide  pokok dari materi memecahkan permasalahan atau mengaplikasikan apa yang dipelajari aktifitas dalam suatu pembelajaran bukan hanya peserta didik yang aktif tetapi dilain pihak guru juga haru mengorganisasi suatu kondisi yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar.oleh karna itu salah satu yang dapat dilakukan guru adalah merencanakan dan menggunakan model pembelajaranyang dapat mengkondisikan peserta didik  agar belajar secara aktif
Pendidikan merupakan salah satu sektor penting pembangunan disetiap negara. Berhasil tidaknya pendidikan yang dilaksanakan akan menentukan maju mundurnya suatu negara tersebut. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No.20 tahun 2005, “Pendidikan merupakan usaha sadar terencana untuk mengembangkan segala potensi anak agar memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian yang baik, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang baik. Untuk mencapai tujuan pendidikan, disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujua, isi, bahan, dan penerapan model pembelajaran serta peranan seorang pendidik”.  
Pembangunan  Indonesia menuju suatu bangsa yang maju dan disegani oleh bangsa lain tidaklah hanya bertumpu pada potensi sumber daya alam semata tetapi bergeser pada potensi sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Indikatornya adalah seberapa besar penguasaan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bangsa tersebut.
Peningkatan sumber daya manusia berkaitan erat dengan berkembangnya pendidikan pada suatu negara. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai kemajuan tersebut. Dalam sistem pendidikan nasional, ada penjenjangan pendidikan jalur sekolah, yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Dengan adanya penjenjangan ini,  diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau keahlian sehingga mampu berkompetisi guna menghadapi persaingan dimasa sekarang dan yang akan datang. Hal ini didorong dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dan menimbulkan kebutuhan pasar akan sumber daya yang memiliki keahlian khusus sangat tinggi.
Hal yang sama juga terjadi pada salah satu ilmu pengetahuan yang paling mendasar karena menjadi kebutuhan bagi umat manusia, yaitu matematika. Perubahan ini tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui suatu tahapan yang memakan proses serta waktu yang sangat lama. Matematika merupakan pelajaran yang mengandalkan kemampuan berhitung, bernalar, dan logika yang baik. Oleh karena itu, peserta didik dituntut untuk memahami konsep-konsep matematika secara terarah. Dengan melakukan hal tersebut, diharapkan peserta didik memiliki kemampuan beralasan, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa, kebanyakan peserta didik mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real.  Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi peserta didik adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna.  Guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh peserta didik dan peserta didik kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika.  Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna (Soedjadi, 2000; Price,1996; Zamroni, 2000).  Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan kembali.
Selain memiliki objek kajian langsung, belajar matematika juga memiliki objek kajian tak langsung, yaitu: (a) pembuktian teorema, (b) pemecahan masalah, (c) pengembangan intelektual, (d) kerja individu,dan (e) kerja kelompok (Bell, 1981). Tidak seperti objek kajian langsung yang menjadi sasaran utama dalam pembelajaran matematika, objek tak langsung dianggap sebagai dampak pengiring saja, sehingga kurang mendapat perhatian serius dari para guru maupun peserta didik. Hal ini tercermin dari pengukuran pencapaian hasil belajar matematika yang belum banyak melibatkan objek- objek tak langsung tersebut. Penilaian yang dilakukan oleh guru dewasa ini terlalu menekankan pada dimensi proses kognitif saja tanpa memperhatikan dimensi pengetahuan. Akibatnya, upaya- upaya peningkatan kualitas pembelajaran dengan penekanan pada dimensi pengetahuan masih sangat kurang dilakukan bahkan cenderung diabaikan .
Pengajaran matematika selama ini sebagaimana yang digambarkan oleh Griffith dan Clyne (1994: 17) cenderung dikembangkan melalui pola pengajaran teori – contoh – latihan. Pola ini perlu ditinjau kembali sebab, pertama, sebagaimana yang dinyatakan oleh Groves (1989: 11) pengajaran matematika yang didasarkan pada “teori – contoh – latihan” hanya menyajikan suatu pandangan yang sempit tentang matematika, dan tidak pernah menyarankan bahwa mathematics is something done by people and it can be used in our real life. Alasan yang lain adalah, dari pandangan para constructivist, sebagaimana Burton (1992: 16) mengatakan bahwa proses belajar mengajar harus memungkinkan murid untuk mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri tentang matematika secara mendalam yang didasarkan pada apa yang mereka telah ketahui (previous knowledge) dari pada hanya sekedar melalui cara penyampaian yang formal.
Dengan perkembangan zaman, yang berdampak terhadap perubahan kurikulum pembelajaran, kualitas pembelajaran perlu selalu ditingkatkan. Keadaan tersebut dapat dimulai dengan meningkatkan kompetensi para pendidik, baik dalam menyampaikan materi pelajaran, menggunakan model atau teknik mengajar yang tepat, menggunakan media pembelajaran maupun kebutuhan belajar peserta didik. Pendidik yang professional pada hakekatnya adalah mampu menyampaikan materi pembelajaran secara tepat sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Namun demikian, untuk mencapai kearah tersebut perlu berbagai latihan, penguasaan, dan wawasan dalam pembelajaran termasuk salah satunya menggunakan model dan metode pembelajaran yang tepat. Dalam pembelajaran Matematika, pendidik tidak cukup terfokus pada satu model saja tapi pendidik perlu mencoba menerapkan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran karena  mata pelajaran ini merupakan salah satu ilmu yang memegang peranan penting dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebab matematika berfungsi sebagai alat untuk menjelaskan, mengembangkan berbagai ilmu lain. Sebab lain adalah bahwa matematika selalu terkait dalam setiap proses ilmu pengetahuan lain. Dan salah satu tujuan pembelajaran Matematika adalah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri peserta didik yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistimatis dan memiliki sifat obyektif, jujur serta disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain maupun dalam  kehidupan sehari-hari
Hal ini sejalan dengan pendapat Djaali ( 1993:14) bahwa: “Matematika merupakan sarana berfikir deduktif dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai metode berfikir logik yang merupakan dasar dan pangkal tolak penemuan dan pengembangan ilmu-ilmu lain”.
Mengingat peranan Matematika itu sangat penting, maka pengajaran Matematika perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh pada setiap jenjang pendidikan formal. Dalam hal ini peranan seorang guru sangat dibutuhkan karena guru merupakan salah satu komponen dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperang dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan. Guru adalah salah satu unsur kependidikan yang harus berperang secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional.
Sebagai seorang guru, diharapkan dapat membantu peserta didik untuk dapat menerima, memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, peranan yang dimainkan oleh pendidik atau guru sangatlah penting dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik, khusnya pada bidang studi matematika.
Berkaitan dengan hal tersebut, usaha yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan pembelajaran matematika adalah memilih suatu pendekatan mode dan strategi pembelajaran yang memberi perhatian lebih terhadap pemahaman peserta didik pada konsep matematika. Pemahaman konsep dapat dibangun sendiri oleh peserta didik dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menganalisis informasi yang disajikan dalam menemukan sendiri ide-ide matematika, sehingga  peserta didik mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul :  “Efektifitas Penerapan Metode Teams Games Tournamen Dalam Pembelajaran Matematika Kelas VII SMPN 4 Campalagian”
Peningkatan kualitas pendidikan tidak lepas dari kualitas pendidik dalam kegiatan pembelajaran. Peningkatan kualitas pendidik dapat dilakukan melalui berbagai latihan, penggunaan atau penerapan model dan metode dalam pembelajaran, pembuatan alat peraga, pengembangan silabus, dan pembuatan materi yang sesuai dengan kurikulum. Pendidik memegan peranan penting dalam dunia pendidikan seperti perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik di kelas perlu adanya suatu strategi pembelajaran karena belajar merupakan suatu perjalanan mental diri seseorang untuk menuju kepada suatu perubahan. Jadi untuk meningkatan kualitas pendidikan, seorang pendidik haru mampu menerapkan suatu model pembelajaran
Penerapkan model pembelajaran kooperatif learning tipe TGT (Teams games Tournament) dengan metode belajar kelompok adalah salah satu model dalam mengajar yang sangat baik bagi peserta didik, Karena pemilihan model tersebut dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Model kooperatif  learning tipe TGT ini adalah model yang menggunakan tournament akademik seperti model kuis-kuis, sistem skor untuk kemajuan individual peserta didik dimana peserta didik berlomba untuk mendapatkan skor tertinggi  (Rober E. Slavin, 2009 163 ).
Seorang pendidik yang professional itu masih jauh dari kriteria yang diharapkan. Dalam mengajar pendidik masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan  materi pembelajaran. Menggunakan model kooperatif learning dalam mengajar jarang dilakukan. Selama proses belajar mengajar berlangsung peserta didik banyak yang bercerita di belakang dari pada mendengarkan pendidiknya menjelaskan materi pelajaran, kalaupun ada peserta didik yang mendengarkan pendidik menjelaskan, itu hanya peserta didik yang duduknya di depan. Setelah pendidik selesai berceramah di depan peserta didik mengenai pembelajaran, pendidik kemudian meminta peserta didik mengerjakan latihan yang ada pada buku cetak. Alangkah lebih baiknya, sebelum memberikan tugas kepada peserta didik, sebaiknya peserta didik ditanya terlebih dahulu apakah mereka sudah paham atau mengerti dengan materi pelajaran yang telah dijelaskan.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena dan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada proposal ini adalah :
1.      Bagaimana pengertian model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT?
2.      Bagaimana teknik atau langklah-langkah model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT?
3.      Bagaimana keunggulan dan kelemahan model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT?
4.      Bagaimana penerapan model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT?

C.      Tujuan Penelitian
Tujuan dari proposal ini, berdasarkan rumusan masalah diatas yaitu :
1.      Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT.
2.      Untuk mengetahui karakteristik model pembelajaran langsung
3.      Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT.
4.      Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT.
5.      Untuk mengetahui Keterbatasan-Keterbatasan Model Pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT.
C. kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian meliputi kegunaan yang bersifat akademis dan kegunaan bersifat praktis.
1.      Kegunaan yang bersifat akademis.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan khasana ilmu pengetahuan khususnya pada peserta didik SMPN 4 Campalagian tentang penerapan metode pengajaran teams games tournament.
2.      Kegunaan yang bersifat praktis.
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi peserta didik dalam usaha untuk melakukan penelitian ilmiah. Selain itu dapat pula berguna bagi peneliti sendiri untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan suatu penelitian ilmiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar