BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pembelajaran sebagai suatu proses saling mempengaruhi
antara guru dan peserta didik. Dalam hal ini, kegiatan yang terjadi adalah guru
mengajar dan peserta didik belajar menurut, E Mulyasa (2002: 32). Pembelajaran
dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak tidaknya
sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif. Baik fisik,mental
maupunsosial dalm proses pembelajaran. Disamping menunjukkan kegairahan belajar
yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya diri pada diri
sendiri. Berdasrkan halo tersebut diatas upaya gurudalam mengembangkan
keaktifkan belajaran siswa sangatlah penting, sebab keaktifan belajar siswa
menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.
Menurut Oemar Hamalik (2005:172) belaja tidak cukup hanya
mendengar dan melihat tetapi harus melakukan aktivitas yang lain diantaranya
membaca,bertanya, menjawab, berpendapat,mengerjakan tugas, menggambar
berkomunikasi presentasi diskusi, menyimpulkan, dan memanmaatkan
peralatan.dalam pembelajaran, gurumenyajikan permasalhan matematika dan
mendorong siswa untuk mengidentifikasipermasalahan,mencari pemecahan,
menyimpulkan hasilnya, kemudian mempresentasikannya. Tugas guru sebagai
fasilitator dan pembimbing adalah memberi bantuan dan arahan ketika peserta
didik menemukan masalah dalam
menyelesaikan tugas, selain berinteraksi dengan guru, pesertadidik juga dapat
bertanya dan berdiskusi dengan siswa lain. Siswa dikatakan belajar dengan aktif
menggunakan otak, baik untuk menemukan ide
pokok dari materi memecahkan permasalahan atau mengaplikasikan apa yang
dipelajari aktifitas dalam suatu pembelajaran bukan hanya peserta didik yang
aktif tetapi dilain pihak guru juga haru mengorganisasi suatu kondisi yang
dapat mengaktifkan siswa dalam belajar.oleh karna itu salah satu yang dapat
dilakukan guru adalah merencanakan dan menggunakan model pembelajaranyang dapat
mengkondisikan peserta didik agar
belajar secara aktif
Pendidikan
merupakan salah satu sektor penting pembangunan disetiap negara. Berhasil
tidaknya pendidikan yang dilaksanakan akan menentukan maju mundurnya suatu
negara tersebut. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No.20
tahun 2005, “Pendidikan merupakan usaha sadar terencana untuk mengembangkan
segala potensi anak agar memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian
diri, berkepribadian yang baik, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta
memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga
negara yang baik. Untuk mencapai tujuan pendidikan, disusunlah kurikulum yang
merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujua, isi, bahan, dan
penerapan model pembelajaran serta peranan seorang pendidik”.
Pembangunan Indonesia menuju suatu bangsa yang maju dan
disegani oleh bangsa lain tidaklah hanya bertumpu pada potensi sumber daya alam
semata tetapi bergeser pada potensi sumber daya manusia yang menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi. Indikatornya adalah seberapa besar penguasaan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bangsa tersebut.
Peningkatan sumber daya manusia
berkaitan erat dengan berkembangnya pendidikan pada suatu negara. Pendidikan
merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai kemajuan tersebut. Dalam
sistem pendidikan nasional, ada penjenjangan pendidikan jalur sekolah, yaitu
pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Dengan adanya
penjenjangan ini, diharapkan mampu
menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau keahlian sehingga mampu
berkompetisi guna menghadapi persaingan dimasa sekarang dan yang akan datang.
Hal ini didorong dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dan
menimbulkan kebutuhan pasar akan sumber daya yang memiliki keahlian khusus
sangat tinggi.
Hal yang sama juga terjadi pada
salah satu ilmu pengetahuan yang paling mendasar karena menjadi kebutuhan bagi
umat manusia, yaitu matematika. Perubahan ini tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui
suatu tahapan yang memakan proses serta waktu yang sangat lama. Matematika
merupakan pelajaran yang mengandalkan kemampuan berhitung, bernalar, dan logika
yang baik. Oleh karena itu, peserta didik dituntut untuk memahami konsep-konsep
matematika secara terarah. Dengan melakukan hal tersebut, diharapkan peserta
didik memiliki kemampuan beralasan, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan
menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa, kebanyakan peserta didik mengalami
kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan
real. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi peserta didik
adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam
pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh
peserta didik dan peserta didik kurang diberikan kesempatan untuk menemukan
kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika. Mengaitkan
pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di
kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna (Soedjadi, 2000; Price,1996;
Zamroni, 2000). Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar
matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari maka anak akan cepat
lupa dan tidak dapat mengaplikasikan kembali.
Selain
memiliki objek kajian langsung, belajar matematika juga memiliki objek kajian
tak langsung, yaitu: (a) pembuktian teorema, (b) pemecahan masalah, (c)
pengembangan intelektual, (d) kerja individu,dan (e) kerja kelompok (Bell,
1981). Tidak seperti objek kajian langsung yang menjadi sasaran utama dalam
pembelajaran matematika, objek tak langsung dianggap sebagai dampak pengiring
saja, sehingga kurang mendapat perhatian serius dari para guru maupun peserta
didik. Hal ini tercermin dari pengukuran pencapaian hasil belajar matematika
yang belum banyak melibatkan objek- objek tak langsung tersebut. Penilaian
yang dilakukan oleh guru dewasa ini terlalu menekankan pada dimensi proses
kognitif saja tanpa memperhatikan dimensi pengetahuan. Akibatnya, upaya- upaya
peningkatan kualitas pembelajaran dengan penekanan pada dimensi pengetahuan masih
sangat kurang dilakukan bahkan cenderung diabaikan .
Pengajaran
matematika selama ini sebagaimana yang digambarkan oleh Griffith dan Clyne
(1994: 17) cenderung dikembangkan melalui pola pengajaran teori – contoh –
latihan. Pola ini perlu ditinjau kembali sebab, pertama, sebagaimana yang
dinyatakan oleh Groves (1989: 11) pengajaran matematika yang didasarkan pada
“teori – contoh – latihan” hanya menyajikan suatu pandangan yang sempit tentang
matematika, dan tidak pernah menyarankan bahwa mathematics is something done by people and it can be used in our real
life. Alasan yang lain adalah, dari pandangan para constructivist,
sebagaimana Burton (1992: 16) mengatakan
bahwa proses belajar mengajar harus memungkinkan murid untuk mengkonstruksi
pemahaman mereka sendiri tentang matematika secara mendalam yang didasarkan
pada apa yang mereka telah ketahui (previous knowledge) dari pada hanya sekedar
melalui cara penyampaian yang formal.
Dengan
perkembangan zaman, yang berdampak terhadap perubahan kurikulum pembelajaran,
kualitas pembelajaran perlu selalu ditingkatkan. Keadaan tersebut dapat dimulai
dengan meningkatkan kompetensi para pendidik, baik dalam menyampaikan materi
pelajaran, menggunakan model atau teknik mengajar yang tepat, menggunakan media
pembelajaran maupun kebutuhan belajar peserta didik. Pendidik yang professional
pada hakekatnya adalah mampu menyampaikan materi pembelajaran secara tepat
sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Namun demikian, untuk mencapai
kearah tersebut perlu berbagai latihan, penguasaan, dan wawasan dalam
pembelajaran termasuk salah satunya menggunakan model dan metode pembelajaran
yang tepat. Dalam pembelajaran Matematika,
pendidik tidak cukup terfokus pada satu model saja tapi pendidik perlu mencoba
menerapkan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan materi
pembelajaran karena mata pelajaran ini
merupakan salah satu ilmu yang memegang peranan penting dalam usaha
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebab matematika berfungsi sebagai
alat untuk menjelaskan, mengembangkan berbagai ilmu lain. Sebab lain adalah
bahwa matematika selalu terkait dalam setiap proses ilmu pengetahuan lain. Dan
salah satu tujuan pembelajaran Matematika adalah terbentuknya kemampuan
bernalar pada diri peserta didik yang tercermin melalui kemampuan berpikir
kritis, logis, sistimatis dan memiliki sifat obyektif, jujur serta disiplin
dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain
maupun dalam kehidupan sehari-hari
Hal
ini sejalan dengan pendapat Djaali ( 1993:14) bahwa: “Matematika merupakan
sarana berfikir deduktif dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, sebagai metode berfikir logik yang merupakan dasar dan pangkal tolak
penemuan dan pengembangan ilmu-ilmu lain”.
Mengingat
peranan Matematika itu sangat penting, maka pengajaran Matematika perlu
mendapat perhatian yang sungguh-sungguh pada setiap jenjang pendidikan formal.
Dalam hal ini peranan seorang guru sangat dibutuhkan karena guru merupakan
salah satu komponen dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperang dalam
usaha meningkatkan kualitas pendidikan. Guru adalah salah satu unsur
kependidikan yang harus berperang secara aktif dan menempatkan kedudukannya
sebagai tenaga profesional.
Sebagai
seorang guru, diharapkan dapat membantu peserta didik untuk dapat menerima,
memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, peranan yang
dimainkan oleh pendidik atau guru sangatlah penting dalam meningkatkan hasil
belajar peserta didik, khusnya pada bidang studi matematika.
Berkaitan
dengan hal tersebut, usaha yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan
pembelajaran matematika adalah memilih suatu pendekatan mode dan strategi
pembelajaran yang memberi perhatian lebih terhadap pemahaman peserta didik pada
konsep matematika. Pemahaman konsep dapat dibangun sendiri oleh peserta didik
dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menganalisis informasi
yang disajikan dalam menemukan sendiri ide-ide matematika, sehingga peserta didik mampu memecahkan berbagai permasalahan
yang dihadapinya.
Berdasarkan
uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul : “Efektifitas
Penerapan Metode Teams Games Tournamen Dalam Pembelajaran Matematika Kelas VII SMPN
4 Campalagian”
Peningkatan
kualitas pendidikan tidak lepas dari kualitas pendidik dalam kegiatan
pembelajaran. Peningkatan kualitas pendidik dapat dilakukan melalui berbagai
latihan, penggunaan atau penerapan model dan metode dalam pembelajaran,
pembuatan alat peraga, pengembangan silabus, dan pembuatan materi yang sesuai
dengan kurikulum. Pendidik memegan peranan penting dalam dunia pendidikan
seperti perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Proses interaksi
antara peserta didik dengan pendidik di kelas perlu adanya suatu strategi
pembelajaran karena belajar merupakan suatu perjalanan mental diri seseorang
untuk menuju kepada suatu perubahan. Jadi untuk meningkatan kualitas
pendidikan, seorang pendidik haru mampu menerapkan suatu model pembelajaran
Penerapkan
model pembelajaran kooperatif learning
tipe TGT (Teams games Tournament) dengan metode belajar
kelompok adalah salah satu model dalam mengajar yang sangat baik bagi peserta
didik, Karena pemilihan model tersebut dapat meningkatkan pencapaian hasil
belajar sesuai dengan yang diharapkan. Model kooperatif learning
tipe TGT ini adalah model yang menggunakan tournament
akademik seperti model kuis-kuis, sistem skor untuk kemajuan individual peserta
didik dimana peserta didik berlomba untuk mendapatkan skor tertinggi (Rober E. Slavin, 2009 163 ).
Seorang pendidik yang professional itu masih jauh dari
kriteria yang diharapkan. Dalam mengajar pendidik masih menggunakan metode
ceramah dalam menyampaikan materi
pembelajaran. Menggunakan model kooperatif learning
dalam mengajar jarang dilakukan. Selama proses belajar mengajar berlangsung
peserta didik banyak yang bercerita di belakang dari pada mendengarkan
pendidiknya menjelaskan materi pelajaran, kalaupun ada peserta didik yang
mendengarkan pendidik menjelaskan, itu hanya peserta didik yang duduknya di
depan. Setelah pendidik selesai berceramah di depan peserta didik mengenai
pembelajaran, pendidik kemudian meminta peserta didik mengerjakan latihan yang
ada pada buku cetak. Alangkah lebih baiknya, sebelum memberikan tugas kepada
peserta didik, sebaiknya peserta didik ditanya terlebih dahulu apakah mereka
sudah paham atau mengerti dengan materi pelajaran yang telah dijelaskan.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
fenomena dan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada proposal ini
adalah :
1. Bagaimana
pengertian model pembelajaran (Teams
Games Tournament) TGT?
2. Bagaimana
teknik atau langklah-langkah model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT?
3. Bagaimana
keunggulan dan kelemahan model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT?
4. Bagaimana
penerapan model pembelajaran (Teams Games
Tournament) TGT?
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari proposal ini,
berdasarkan rumusan masalah diatas yaitu :
1. Untuk
mengetahui pengertian model pembelajaran (Teams
Games Tournament) TGT.
2. Untuk
mengetahui karakteristik model pembelajaran langsung
3. Untuk
mengetahui penerapan model pembelajaran (Teams
Games Tournament) TGT.
4. Untuk
mengetahui keunggulan dan kelemahan model pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT.
5.
Untuk mengetahui Keterbatasan-Keterbatasan
Model Pembelajaran (Teams Games Tournament) TGT.
C. kegunaan
Penelitian
Kegunaan penelitian
meliputi kegunaan yang bersifat akademis dan kegunaan bersifat praktis.
1.
Kegunaan yang
bersifat akademis.
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat menyumbangkan khasana ilmu pengetahuan khususnya pada peserta didik SMPN
4 Campalagian tentang penerapan metode pengajaran teams games tournament.
2.
Kegunaan yang
bersifat praktis.
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan
bagi peserta didik dalam usaha untuk melakukan penelitian ilmiah. Selain itu
dapat pula berguna bagi peneliti sendiri untuk meningkatkan kemampuan dalam
melakukan suatu penelitian ilmiah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar